Adadia

"Seorang lelaki biasa yang tetap makan tempe dan ikan masin. Sedang mengurat seorang gadis yang tidak makan bawang"

Sunday, August 31, 2008

Ketika Cinta Bertasbih Ep 1

Hari yang merdeka ini, meluangkan masa di rumah. Bermalas-malasan. Keluar melawat rumah adik yang baru (tidak baru sebenarnya kerana ia adalah rumah sewa orang tua). Membelek-belek folder download, ternampak folder e-book yang telah lama tidak diusik. Terpandang satu file pdf Ketika Cinta Bertasbih Ep 1 ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy.

Tersenyum-senyum membacanya. Kekadang tergelak. Mudah difahami walaupun dalam bahasa Indonesia.

Sedikit sinopsis ..

....

Seketika Azzam menghentikan langkahnya. Karena ada larangan dalam saran Pak Ali ia menjadi terhenyak penasaran. Seperti Nabi Adam ketika dilarang makan buah Khuldi malah jadi penasaran. Dan begitulah manusia jika mendapat larangan seringkali reaksi yang pertama kali timbul adalah justru
penasaran ingin tahu. Ada apa dilarang? Kenapa dilarang?

"Memangnya kenapa Pak?"

Pak Ali tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Azzam.

"Sudah kuduga, pasti pertanyaan itu yang akan langsung keluar. Kau pasti penasaran. Kenapa aku sarankan sebaiknya jangan memimpikan isteri model Eliana, alasan utamanya adalah agar kau tidak sengsara. Tidak hidup sia-sia. Agar kau bahagia! Aku melihat kau sama sekali tidak cocok jika punya
isteri gadis model Eliana. Ya, dia cantik dan cerdas. Juga kaya. Anak pejabat. Tapi kebahagiaan rumah tangga tidak cukup hanya dengan memiliki isteri yang cantik, cerdas, kaya dan terhormat. Tidak. Akhir-akhir ini Eliana memang jadi buah bibir. Termasuk di kalangan mahasiswa Al Azhar. Baik putra
maupun putri. Tidak sedikit yang aku lihat sangat tertarik pada Eliana. Meskipun mereka tahu bagaimana cara berpakaiannya yang terkadang tak kalah beraninya dengan artis Hollywood. Yang aku heran, bagaimana mungkin ada mahasiswa Al Azhar tertarik dengan gadis model itu. Mana Quran
dan Hadis yang telah kalian pelajari? Dan aku lihat kamu sendiri sebenarnya juga terpikat kecantikan Eliana. Aku bisa melihat dan bahasa tubuhmu sorot matamu, dan getar suaramu. Kau boleh saja mengatakan bosan mendengar namanya. Tapi aku lebih tua darimu."

"Tapi Eliana itu kalau pakai jilbab seperti ketika menjadi M.C. peringatan tahun baru hijriah tampak anggun dan cantik lho Pak?"

"Lho, bisa bilang begitu kok mengingkari kalau tertarik pada Eliana. Ya, Nicole Kidman kalau pakai jilbab juga cantik. Eliana juga. Tapi kalau di diskotik tak kalah dengan penari perut. Kau mau punya isteri seperti itu!?"

"Pak jangan membuka aib orang, jangan memfitnah orang dong!"

Pak Ali malah tersenyum.

"Kalau aku mengatakan si Tiara, mahasiswi Al Azhar yang biasa mengajar Al-Quran di Masjid SIC itu kalau di diskotik tak kalah dengan penari perut barulah aku memfitnah dia. Lha ini, orang Eliana sendiri bangga cerita ke mana-mana. Bahkan ia sudah cerita di website pribadinya. Ayahnya yang jadi Dubes itu juga bangga. Bahkan pernah meminta putrinya menunjukkan kebolehannya dihadapan diplomat-diplomat
asing. Sampai ada seorang sutradara Mesir yang akan memintanya ikut main film. Kalau kemungkaran itu ditutup-tutupi saya akan berusaha ikut menutupi. Ini kemungkarannya malah dipropagandakan, dibangga -banggakan. Coba kau renungkan
apakah ketika aku mewanti-wanti anak perempuanku agar
tidak mencontoh Nicole Kidman yang sangat bangga tampil tanpa busana di sebuah pertunjukan teater di Inggris, aku katakan: 'jangan mengagumi orang yang suka bermaksiat terangterangan itu! ', apakah itu berarti aku memfitnah bintang Hollywood itu? Padahal berita perbuatan gilanya itu dimuat di koran koran dan internet di seluruh dunia."

"Kok saya tidak pernah tahu hal-hal seperti itu ya Pak?"

"Sebaiknya memang kamu tidak tahu yang begitu-begitu. Kalau tahu nanti malah gawat, kau tidak jadi bikin tempe. Tidak juga jadi kuliah. Adik-adikmu di Indonesia bisa kelaparan. Karena pikiranmu ke mana mana. Aku hanya ingin mengingatkan padamu jangan mudah tertarik pada perempuan
cantik. Di akhir jaman itu tidak sedikit perempuan yang cantik memesona, namun sebenarnya adalah seorang pelacur.

Na'udzubillaah!"

"Tapi perempuan cantik yang salehah, benar-benar salehah dan menjaga kesuciannya banyak lho Pak."

Pak Ali kembali tersenyum.

"Iya bapak percaya itu. Karena itulah kamu harus benarbenar matang dalam memilih isteri. Jangan asal cantik. Lha kebetulan Bapak punya cerita tentang gadis yang cantik, salehah, memesona dan cerdas. Kau mau mende-ngarkan? "

"Wah, boleh Pak."

"Kalau begitu ayo kita duduk di sana. Bapak akan cerita panjang lebar." Kata Pak Ali sambil menunjuk pembatas jalan di pinggir trotoar yang bisa diduduki. Mereka berdua berjalan
ke sana. Alexandria semakin terang.

Kabut mulai hilang perlahan- lahan. Pantai mulai ramai. Jalan jalan sudah mulai dipenuhi kendaraan yang lalu lalang. Di kejauhan tampak Benteng Qaitbey berdiri di ujung tanjung. Gagah dan menawan. Mereka
duduk menghadap laut yang bergelombang tenang. Azzam memandang ke arah kiri, ke arah benteng. Sementara Pak Ali memandang ke arah kanan.

"Lha kalau mereka itu aku yakin wanita-wanita salehah." Gumam Pak Ali memandang Azzam, mengalihkan pandangan.

"Itu mana Pak?'

"Itu." Tunjuk Pak Ali ke arah rombongan gadis-gadis berjilbab. Dari cara mereka memakai jilbab dan cara mereka berjalan menunjukkan kalau mereka dari Asia.

"Mereka anakanak Malaysia. Hampir semua yang kuliah di Al Azhar Banat di sini adalah mahasiswi dari Malaysia. Indonesia boleh dikatakan tidak ada. Semua mahasis-winya ngumpul di Cairo."

Pak Ali menjelaskan panjang lebar seolah Azzam bukan mahasiswa Al Azhar. Azzam diam saja, tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu. Ia sudah sembilan tahun tinggal di Mesir.

"Sudahlah Pak, tidak usah membahas mahasiswi Malaysia itu. Langsung saja pada cerita yang ingin Pak Ali sampaikan tadi. Matahari sudah bersinar terang. Kita belum sarapan."

"Baiklah Mas. Dengarkan baik-baik ya. Ceritanya ada sangkut-pautnya sedikit dengan hidupku."

Pak Ali memandang jauh ke tengah lautan. Ia mengambil nafas lalu melanjutkan.


....

0 Comments:

Post a Comment

<< Home